Wanita 60 Tahun hafal al Qur’an Hanya Dengan Mendengar

Usianya 60 tahun. Ia seorang buta huruf yang tak bisa baca tulis. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah mengecap pendidikan sekolah. Ia memfokuskan diri mengurus rumah tangga dan kehidupan 10 orang anggota keluarga yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Suaminya meninggal dunia karena penyakit akut yang ia idap.

Orang-orang yang ada di sekitarnya lari darinya. Sehingga, ia menghadapi kondisi kemiskinan dan hutang yang menumpuk di hadapan banyak anaknya dengan berbagai ragam permintaan mereka. Ia tidak menggerutu ataupun menyerah. Sebab, ia sadar bahwa tugasnya adalah mulia sekaligus merupakan sebuah kewajiban. Baca lebih lanjut

Kesadaran diri

fot1Islam merupakan agama yang selalu memperhatikan kehidupan manusia baik hal yang terkecil maupun besar. Perhatian ini tidak hanya didunia hingga akhirat. Sebelum turunnya Islam dimuka bumi banyak kesalahan-kesalahan manusia  dalam menjalankan tatanan kehidupannya tidak mempunyai arahan hidup seolah hidup bebas.  Mereka berada didalam kegelapan maksudnya mereka tidak mendapatkan petunjuk atau arahan hidup yang baik. Setelah datangan agama islam yang akan memberikan cahaya melalui seorang Nabi yang memberikan jalan terbaik mereka, maka datanglah cahaya bagi mereka walaupun sebagian manusia menerima cahaya itu.

Alhamdulillah berkat Rahmat Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang kita telah mendapatkan cahaya itu (islam) suatu kebahagiaan terbesar bagi kita sebagai kaum muslimin memeluk agama Islam yang diturunkan oleh sang pencipta yaitu  Allah SubhanaALLAHU Ta’ala. Kini cahaya itu telah kita pegang dalam hati dan meyakini tidak ada keraguan sedikitpun hingga akhir hayat.

Kita telah ketahui bersama bahawa kehidupan kaum muslimin telah diatur oleh aturam-aturan  Islam. Dimana aturan ini adalah kodrat bagi manusia untuk menjalankannya. Tidak boleh tidak dan tidak boleh membeloknya karena sedikit menjahui aturan Islam maka  Allah memberikannya ganjaran yang pedih, baik kecil maupun besar  ada pertanggung jawabannya dan akan dibalas di akhirat nanti. Lihat firman Allah swt. Baca lebih lanjut

Shalat Dhuha

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan shalat-shalat sunnah untuk menyempurnakan ibadah shalat wajib. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sungguh, amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila shalat wajibnya kurang sedikit, maka Rabb ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)!’ Lalu, dengannya disempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.” (Hr. at-Tirmidzi)

Keutamaan Shalat Dhuha

Shalat dhuha memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

Pertama, mencukupkan sedekah sebanyak persendian manusia, yaitu tiga ratus enam puluh persendian, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang berbunyi,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

Dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau telah bersabda, “Setiap hari bagi setiap persendian dari salah seorang di antara kalian terdapat kewajiban untuk bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf nahi munkar adalah sedekah. Semua itu tercukupkan dengan dua rakaat shalat yang dilakukan di waktu dhuha.” (Hr. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Shalat ad-Dhuha, no. 720) Baca lebih lanjut

117 Siswa Palestina Hafal Al-Qur’an Dalam Sebulan

Gaza – Infopalestina: Departemen dan urusan agama Palestina menyebutkan, 117 siswa dan siswi dari kamp kementerian wakaf berhasil menamatkan program hifdzil Qur’an dalam kurang dari satu bulan.

Ia menyebutkan, setiap hari kita menyaksikan keberhasilan yang dicapai sejumlah peserta kamp hafalan al-Qur’an dalam program ini. pejabat direktur divisi haifdzil Qur’an, Imad Dujani mengatakan, Ahad (4/7) sebanyak 40 siswa dari kamp hifzil Qur’an berhasil mencapai target menghafal Al-Qur’an sebanyak 30 juz, dalam kurang dari satu bulan. Selain itu, 77 siswi juga hafal Al-Qur’an dalam waktu yang bersamaan.

Dujani menjelaskan, sebanyak 308 siswa tingkat empat berhasil menghafal lima juz dalam kurag dari satu bulan. 60 siswa lain menamatkan 10 juz dan hafal di luar kepala dalam waktu yang sama.

Masih pada tingkat ini sebanyak 150 siswi telah menghafalkan 10 juz Al-Qur’an. Sebanyak 92 siswa juga berhasil menyelesaikan target untuk menghafalkan 20 juz Al-Qur’an. Bahkan ada sekitar 44 siwa di tingkat menengah berhasil menghafal setengah dari Al-Qur’an dalam dua pekan.

http://www.infopalestina.com

Ibu Rumah Tangga Hafal Al-Qur’an dalam Sebulan

Ummu Zaid, seorang ibu rumah tangga ketika menceritakan pengalamannya dalam menghafal Al Quran, beliau menutup cerita dengan kata-kata yang bisa menjadi nasihat untuk kita semua, terutama untuk ibu rumah tangga. Belum pupus harapan bagi kalian untuk menjadi penghafal kitabullah. Berikut nasihat beliau yang saya kutip dari buku Hafal Al Quran Dalam Sebulan Untuk menutup halaman-halaman yang indah ini, aku sampaikan pada kalian bahwa aku adalah wanita , sebagaimana wanita lainnya. Aku memiliki suami dan anak-anak. Anak-anakku belajar di sekolah khusus dengan kurikulum pelajaran yang sangat sulit. Aku hafal Al Quran, tapi aku tidak melalaikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Aku didik anak-anakku dan berusaha mengajari mereka segala sesuatu. Bahkan tanggung jawabku yang paling utama adalah sebagai seorang istri yang berusaha untuk mendapatkan keridhaan suami, tanpa mengurangi haknya dan dengan menunaikan kewajiban-kewajibanku secara sempurna. Alhamdulillah, Allah tidak menjadikanku telat dalam menghafal al Quran. Demi Allah, janganlah kalian beralasan atas tidak hafalnya kalian terhadap al Quran. Apalagi kalian adalah para gadis yang belum menikah dan belum memikul tanggung jawab. Pertama dan terakhir kalinya adalah berprasangka baik pada Allah. Karena dengan begitu, Allah akan berprasangka baik sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Pada awalnya, aku mengira bahwa surat al Baqarah dan Ali Imran sangat sulit untuk dihafal, dan usaha itu akan memakan waktu yang lama. Dan Allah pun memberiku anugrah sesuai dengan apa yang kusangka, yakni menghafalnya selama 7 tahun. Itu karena aku tidak berprasangka baik pada Allah. Baca lebih lanjut

Kuburan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاََّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, 3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, At-Tirmidzi 2/155, dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, 3/339 dan 399). Baca lebih lanjut

QIRO’ATU SAB’AH

7 IMAM QURRO SAB’AH ini memiliki cara membaca yang berbeda , Qiro’ah yang terkenal pada zaman ini yaitu Imam Hafs, beliau termsuk murid dari Imam A’sim , beliau ( Imam Hafs ) berguru bersama Imam Syu’bah bin Ayyasy bin salim Al-Hanath Al-Asadi Alkufi , Julukan Beliau Abu Bakar.

1. PENGERTIAN QIROAT

Al-Qira’aat adalah jamak dari kata qiro’ah yang berasal dari qara’ayaqra’uqirâ’atan. Menurut istilah qira’at ialah salah satu aliran dalam pelafalan/pengucapan Al-Qur’an yang dipakai oleh salah seorang imam qura’ yang berbeda dengan lainnya dalam hal ucapan Al-Qur’anul Karim. Qira’at ini berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

2. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU QIRO’AT

Para sahabat mempelajari cara pengucapan Al-Quran langsung dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan beberapa dari ‘secara resmi’ direkomendasikan oleh Rasulullah SAW sebagai rujukan sahabat lainnya dalam pengucapan Al-Quran.

  • Dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Ambillah (belajarlah) Al-Quran dari empat orang : Abdullah bin Mas’ud, Salim, Muadz, dan Ubai bin Ka’b ” (HR Bukhori) Baca lebih lanjut