Hukum Sujud Tilawah

Para ulama telah bersepakat tentang disyariatkannya sujud tilawah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:

كان يقرأ القرآن. فيقرأ سورة فيها سجدة .فيسجد. وتسجد معه. حتى ما يجد بعضنا موضعا لمكان جبهته.

“Biasanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan kepada kami sebuah surat dari Al Qur’an yang terdapat ayat sajadah, beliau bersujud. Maka kami pun bersujud sampai-sampai salah seorang dari kami tidak mendapat tempat bagi dahinya”[1]

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum sujud tilawah, jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah, sedangkan sebagian ulama seperti Sufyan Ats Tsauri, Abu Hanifah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat hukumnya wajib. Namun pendapat yang benar hukumnya adalah sunnah, sebagaimana hadits yang terdapat dalam Shahihain;

أَنَّهُ سَأَلَ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ عَنْ الْقِرَاءَةِ مَعَ الْإِمَامِ فَقَالَ لَا قِرَاءَةَ مَعَ الْإِمَامِ فِي شَيْءٍ وَزَعَمَ أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى فَلَمْ يَسْجُدْ

Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu : ia berkata:Dari Atha bin Yasar, bahwa ia bertanya kepada Zaid bin Tsabit tentang bacaan makmum bersama imam. Zaid menjawab: Tidak ada bacaan makmum bersama imam. Zaid meyakini bahwa dirinya pernah membaca surat An-Najm, “Wan najmi idza hawa” (demi bintang ketika terbenam) di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak sujud tilawah.[2]

 

Dari Umar bin Al-Khattab Ra diceritakan bahwa beliau pernah membaca pada hari Jum’at diatas mimbar surat An-Nahl sehingga ketika sampai kepada ayat sajdah (ayat 49) beliau turun dan bersujud yang diikuti oleh semua manusia. Kemudian pada hari Jum’at setelahnya beliau kembali membaca surta An-Nahl. Ketika sampai pada ayat sajdah ia berkata: ”Wahai manusia sesungguhnya kita akan membaca ayat sajdah. Barangsiapa yang sujud  maka benarlah apa yang dia lakukan dan barangsiapa yang tidak sujud maka tidak ada dosa baginya”[3]

 Hal ini menunjukkan bahwa sujud tilawah tidaklah wajib (At Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an)

M. Iding Sanusi


[1]. HR. Muslim :103

[2] .HR. Muslim

[3] . HR. Bukhari No. 1077

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s